BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Inilah Ramuan Berbahan Alam yang Bisa Membantu Puasa Bebas dari Gangguan Lambung

.                  Sigit Setiono Pengiat Herbal

JAKARTA MR – Gangguan asal lambung bisa menjadi kendala selama menjalani ibadah puasa Ramadan. Masalah asam lambung kerap jadi “musuh” saat menjalani puasa Ramadan. Perut terasa perih, dada panas, sampai bikin ibadah jadi kurang nyaman. 

Salah satu cara alami yang bisa dicoba adalah ramuan tradisional berbahan kunyit dan madu. Resep tradisional ini dibagikan Bernadetta Yuni, pemilik PT Dapur Pedak Margomulyo, dalam diskusi daring yang diselenggarakan Herbalped pada Senin (16/2/2026).

Cara membuatnya terbilang sederhana, yakni dengan memarut kunyit secukupnya, memeras airnya, lalu mencampurkannya dengan madu. “Ramuan ini cukup manjur untuk membantu mengurangi asam lambung, sehingga ibadah puasa bisa dijalani dengan lebih nyaman,” ujar Yuni.

Selain Yuni, diskusi menghadirkan narasumber dari Semarang, Putri Ayu bersama suaminya, Didik Mardi, dan Agi Sugianto, wartawan yang kini mengibarkan bendera bisnis musik dan herbal melalui sistem maklon.

Selain ramuan kunyit dan madu, Yuni juga menyarankan untuk mengonsumsi minuman tradisional berbahan dasar temulawak untuk menjaga stamina tubuh selama berpuasa.

Putri Ayu menyampaikan hal senada. Ia menilai minuman berbahan temulawak cukup efektif membantu menjaga kebugaran selama Ramadan.

Pembahasan mengenai ramuan tradisional penunjang puasa ini menjadi salah satu tema yang mengemuka dalam diskusi bertajuk “Ramuan Kreatif Usaha Herbal: Strategi Branding & Pemasaran Unik Menjelang Ramadhan”. Diskusi ini diselenggarakan Herbalped, sebuah inisiatif forum studi herbal dan Kesehatan.

Diskusi ini juga membahas tentang strategi pemasaran dan upaya mengenalkan jamu atau minuman tradisional ke generasi muda. Bernadetta Yuni merupakan pengusaha kuliner asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang selama bertahun-tahun menekuni usaha katering olahan daging dan sambal kemasan.

Namun, dalam setahun terakhir, Yuni merambah bisnis minuman tradisional melalui merek Jamu Nongendong. Produk tersebut dikemas dalam botol praktis dan dipasarkan melalui showcase yang ditempatkan di lokasi strategis seperti mal, hotel, restoran, hingga klinik, untuk menyasar pasar menengah ke atas.

Ketertarikan Yuni pada jamu berawal dari kecintaannya meracik rempah-rempah untuk konsumsi pribadi. Pengalaman itu kemudian berkembang menjadi peluang usaha, terlebih setelah ia menjuarai lomba meramu jamu di Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada 2023.

Prestasi tersebut memacu Yuni untuk mengembangkan inovasi jamu kekinian dengan tambahan soda, boba, dan varian modern lainnya, meski tetap menyebut produknya sebagai minuman tradisional.

Saat ini, Yuni tengah mengurus perizinan BPOM dan sertifikat halal seiring adanya tawaran untuk memasarkan produknya di Yogyakarta International Airport. Ia menyebut produknya dapat bertahan hingga satu bulan jika disimpan dalam lemari pendingin.

Sementara itu, pasangan suami istri Didik Mardi dan Putri Ayu memilih jalur berbeda dalam memasarkan minuman tradisional mereka. Sejak 2004, Didik menekuni usaha berbasis tanaman herbal dan memproduksi minuman segar. Sesuai regulasi, mereka tidak menyebut produknya sebagai jamu, melainkan minuman segar.

Putri Ayu memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dengan cara unik, yakni menjual jamu sambil bernyanyi, lalu mengunggahnya ke YouTube dan TikTok. Selain pemasaran daring, pasangan ini juga membuka lapak di sejumlah lokasi, termasuk kawasan car free day di Kota Semarang.

Strategi pemasaran juga menjadi sorotan dalam diskusi tersebut. Agi Sugiyanto, pemilik PT Tradisi untuk Semesta, mengungkapkan pentingnya pemasaran terbatas untuk melindungi produk dari pemalsuan. Menurutnya, produk yang tengah naik daun kerap menjadi sasaran penjiplakan.

“Produk yang booming biasanya cepat dipalsukan. Karena itu kami membatasi pemasaran lewat marketplace, digital marketing, dan telemarketing,” ujar Agi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa promosi melalui media sosial tetap efektif dan relevan di tengah perubahan perilaku konsumen.

Diskusi ini memberikan penegasan bahwa minuman tradisional tidak hanya berperan sebagai penunjang kesehatan selama Ramadan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui inovasi produk dan strategi pemasaran yang tepat. (Erman /pimred Cahyospirit )




















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar