BREAKING NEWS
🍃 🌿 🍃
🌱 PENGEN INFORMASI SEPUTAR AGROTECH?
Kunjungi agrotechindonesia.com
🌾 Membangun Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
👆 KLIK DI SINI

Pelatihan Penanganan Ular Bersama Exalos Digelar di Embung Doho, Puluhan Relawan Ikuti Materi Terbaru

Pelatihan penanganan ular yang digelar secara gratis di kawasan Embung Doho, Kabupaten Wonogiri, pada Minggu, 20 September 2026

Girimarto,Wonogiri KMR— Upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi kemunculan ular di lingkungan permukiman maupun kawasan wisata terus dilakukan. Salah satunya melalui pelatihan penanganan ular yang digelar secara gratis di kawasan Embung Doho, Kabupaten Wonogiri, pada Minggu, 20 September 2026.

Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 45 orang relawan, serta tambahan 5 orang anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Doho. Dengan demikian, sedikitnya 50 peserta mengikuti kegiatan yang secara khusus memberikan pembekalan mengenai cara menghadapi dan menangani ular secara aman.

Pelatihan ini menjadi ruang bagi para relawan untuk mendapatkan pengetahuan langsung mengenai karakteristik ular, langkah-langkah penanganan, serta berbagai perkembangan terbaru dalam teknik evakuasi ular. Materi diberikan dengan menekankan aspek keselamatan, baik bagi masyarakat maupun bagi petugas atau relawan yang melakukan penanganan.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Fuad Wahyu Pratama, S.STP., M.Si., selaku Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Wonogiri, bersama jajaran. Kehadiran BPBD menunjukkan adanya perhatian terhadap peningkatan kapasitas relawan dan masyarakat dalam menghadapi potensi kejadian yang dapat muncul akibat keberadaan satwa liar, termasuk ular.


Salah satu narasumber utama dalam pelatihan tersebut adalah Janu Wahyu Widodo, selaku ketua sekaligus pendiri Exalos. Janu hadir secara langsung dan memberikan materi kepada para peserta mengenai penanganan ular.

Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman dasar, tetapi juga diperkenalkan dengan materi dan perkembangan terbaru berkaitan dengan penanganan ular. Pengetahuan tersebut dinilai penting mengingat penanganan ular membutuhkan ketelitian dan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

Janu menyampaikan materi berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya dalam bidang penanganan ular. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk memahami berbagai hal yang perlu diperhatikan ketika menghadapi ular, mulai dari mengenali situasi hingga menentukan langkah penanganan yang tepat.

Materi juga diarahkan agar para relawan tidak bertindak gegabah ketika menemukan ular. Keselamatan menjadi salah satu hal utama yang perlu diperhatikan sebelum melakukan tindakan lebih lanjut.

Keberadaan relawan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat ketika terjadi kemunculan ular. Tidak jarang masyarakat merasa panik ketika menemukan ular di rumah, lingkungan sekitar, maupun lokasi wisata.

Kondisi tersebut dapat memicu tindakan spontan yang justru berisiko, baik terhadap manusia maupun ular. Karena itu, pembekalan kepada relawan diharapkan dapat membantu menciptakan pola penanganan yang lebih terukur dan aman.

Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi secara langsung dengan pemateri. Berbagai pengalaman yang pernah ditemui di lapangan juga dapat menjadi bahan pembelajaran bersama.

Bagi anggota Pokdarwis Desa Doho, pengetahuan tersebut juga memiliki nilai penting karena kawasan wisata dapat menjadi salah satu lokasi yang membutuhkan kesiapsiagaan. Dengan memahami langkah yang tepat, pengelola wisata dapat merespons laporan masyarakat atau pengunjung dengan lebih tenang sebelum menentukan tindakan selanjutnya.

Pelatihan penanganan ular di Embung Doho tidak hanya menjadi kegiatan peningkatan kapasitas relawan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai keberadaan satwa liar di sekitar lingkungan mereka.

Ular pada dasarnya merupakan bagian dari ekosistem dan dapat ditemukan di berbagai habitat. Pertemuan antara manusia dan ular dapat terjadi ketika habitat ular berdekatan dengan permukiman, lahan pertanian, maupun kawasan wisata.

Dalam situasi seperti itu, kemampuan mengenali kondisi dan mengambil langkah yang tepat menjadi hal yang penting. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar sehingga tidak mudah melakukan tindakan yang berpotensi membahayakan diri sendiri.

Melalui kegiatan pelatihan, para peserta diharapkan mampu menjadi sumber informasi bagi masyarakat di lingkungannya. Relawan yang telah mendapatkan pembekalan juga dapat membantu memberikan edukasi ketika masyarakat menghadapi situasi yang berkaitan dengan keberadaan ular.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah pelatihan diberikan secara gratis. Hal ini membuka kesempatan lebih luas bagi para relawan untuk meningkatkan kemampuan tanpa terbebani biaya pelatihan.

Sebanyak 45 relawan turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, ditambah lima peserta dari Pokdarwis Desa Doho. Jumlah peserta yang cukup banyak menunjukkan adanya perhatian terhadap pentingnya pengetahuan mengenai penanganan ular.

Kehadiran peserta dari berbagai unsur juga memberikan kesempatan untuk membangun komunikasi dan jejaring antarpihak. Relawan, pengelola wisata, serta unsur pemerintah dapat saling bertukar pengalaman mengenai kondisi yang ditemui di lapangan.

Pelatihan di Embung Doho diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sehari. Pengetahuan yang telah diperoleh para peserta dapat diteruskan kepada masyarakat melalui edukasi dan berbagi pengalaman.

Dengan semakin banyaknya masyarakat yang memahami cara bersikap ketika menemukan ular, potensi kepanikan dapat ditekan. Masyarakat juga diharapkan dapat memahami bahwa penanganan ular membutuhkan pengetahuan dan kehati-hatian.

Kegiatan seperti ini sekaligus memperkuat kapasitas relawan di tingkat lokal. Ketika terjadi laporan keberadaan ular, relawan yang memiliki pembekalan dapat memberikan respons dengan lebih terarah dan mengutamakan keselamatan.

Kehadiran Kalak BPBD Wonogiri Fuad Wahyu Pratama bersama jajarannya serta Janu Wahyu Widodo selaku ketua dan pendiri Exalos memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Kolaborasi antara unsur pemerintah, relawan, pengelola wisata, dan praktisi penanganan ular menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat.

Bertempat di kawasan Embung Doho pada Minggu, 20 September 2026, pelatihan tersebut menjadi momentum bagi para relawan untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan. Bekal yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan secara bijak ketika menghadapi situasi nyata di lapangan, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih memahami pentingnya keselamatan dalam menghadapi keberadaan ular.

Pada akhirnya, edukasi dan peningkatan kapasitas menjadi salah satu kunci agar interaksi manusia dengan satwa liar dapat ditangani secara lebih aman, terukur, dan bertanggung jawab.(Eko Tito/Pimred Cahyospirit)

















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar