BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Mahasiswa Prodi Kesmas FKMIK UNIVET BANTARA Laksanakan Skrining Tuberkulosis.

Mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat FKMIK Universitas Veteran Bangun Nusantara (UNIVET BANTARA) Sukoharjo 

Sukoharjo KMR - Skrining Tuberkulosis adalah untuk mendeteksi infeksi Mycobacterium tuberculosis sedini mungkin ,bahkan sebelum gejala muncul. Hal ini memungkinkan pasien untuk segera diobati, memutus rantai penularan di lingkungan sekitar, dan mencegah komplikasi penyakit yang lebih parah, seperti yang dilakukan di Desa Mojorejo, Selasa (30/6/26).

Sebagai Dasar Penyusunan Program Intervensi Kesehatan Mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat FKMIK Universitas Veteran Bangun Nusantara (UNIVET BANTARA) Sukoharjo selama 2. (Dua) pekan sejak  bulan Juni yang tergabung dalam kegiatan Praktik Belajar Lapangan (PBL) I Program Studi Kesehatan Masyarakat FKMIK melaksanakan kegiatan skrining Tuberkulosis (TBC) di Desa Mojorejo, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan ini merupakan tahap awal dalam mengidentifikasi faktor risiko Tuberkulosis sekaligus mengumpulkan data sebagai dasar penyusunan program intervensi kesehatan yang akan dilaksanakan pada kegiatan PBL II. Mahasiswa PBL I yang berjumlah 7 (tujuh) orang melakukan pengumpulan data dengan sasaran penderita Tuberkulosis dan kontak erat penderita TBC yang berada di wilayah Desa Mojorejo.


Sebelum terjun ke lapangan, mahasiswa mengikuti kegiatan penerjunan dan orientasi di Puskesmas Bendosari diterina Kepala Puskesmas  dr. Romdhon Nugroho, 

untuk memperoleh pembekalan mengenai kondisi kesehatan wilayah, program pengendalian Tuberkulosis, serta data dasar yang mendukung pelaksanaan kegiatan. Pelaksanaan skrining dilakukan di 4 (empat) dusun : (Dusun Losari, Tempuk Rejo, Mojorejo, Dusun Masan). Dalam proses pengumpulan data, mahasiswa didampingi oleh kader kesehatan di masing-masing dusun. Keterlibatan kader kesehatan tersebut sangat membantu mahasiswa dalam menjalin komunikasi dengan masyarakat, mempermudah proses identifikasi responden, serta meningkatkan partisipasi masyarakat selama kegiatan berlangsung.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung kepada responden, observasi lingkungan, serta pencatatan berbagai informasi yang berkaitan dengan riwayat pengobatan TBC, kondisi lingkungan tempat tinggal, faktor risiko penularan, dan keberadaan kontak erat penderita Tuberkulosis. 


Dosen pembimbing PBL I, Titik Haryanti, menyampaikan selain melakukan skrining, mahasiswa juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai gejala Tuberkulosis, pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini, kepatuhan menjalani pengobatan hingga tuntas, serta upaya pencegahan penularan penyakit di lingkungan keluarga maupun masyarakat, jelasnya.


Juga menekankan bahwa keberhasilan penyusunan program intervensi tidak hanya bergantung pada hasil pengumpulan data, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif pemerintah desa dalam proses analisis dan penentuan prioritas masalah.

"Pelibatan pemerintah desa sangat penting dalam menentukan prioritas permasalahan berdasarkan data yang telah diperoleh. Dengan demikian, program yang akan disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki peluang lebih besar untuk berhasil ketika diimplementasikan pada kegiatan PBL II," tambah Titik.


Sementara itu (Ria Juniarti) selaku bidan Desa Mojorejo sekaligus pembimbing saat di  lapangan, memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan masyarakat, karakteristik lingkungan desa, serta kondisi penderita Tuberkulosis yang ada di wilayah tersebut. Informasi tersebut menjadi data pendukung yang sangat penting bagi mahasiswa dalam menentukan tingkat urgensi permasalahan kesehatan yang akan diprioritaskan pada tahap penyusunan program intervensi.

"Informasi mengenai kondisi lingkungan, sebaran penderita TBC, serta karakteristik masyarakat Desa Mojorejo menjadi pelengkap hasil pengumpulan data lapangan sehingga mahasiswa dapat menentukan prioritas masalah secara lebih tepat," ungkap Ria.

Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Desa Mojorejo yang diwakili oleh Sekretaris Desa (Sunarti, S.E) juga memberikan masukan kepada mahasiswa, salah satunya masih asa kendala yang selama ini dihadapi adalah masih sulitnya mengumpulkan masyarakat dalam kegiatan yang bersifat khusus karena kesibukan warga. Menurutnya  agar program intervensi yang akan dilaksanakan memperoleh partisipasi masyarakat yang tinggi, kegiatan sebaiknya diintegrasikan dengan agenda rutin yang telah berjalan di desa, seperti pertemuan PKK, pertemuan kader kesehatan, maupun pertemuan perangkat desa, tuturnya.

Dan "Kami berharap kegiatan mahasiswa nantinya dapat menyesuaikan dengan agenda rutin masyarakat sehingga partisipasi warga menjadi lebih optimal dan program yang dilaksanakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," tambah Sunarti.

Selanjutnya, seluruh data hasil skrining akan dianalisis untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan prioritas. Berdasarkan hasil analisis tersebut, mahasiswa akan menyusun Plan of Action (POA) sebagai dasar pelaksanaan program intervensi kesehatan pada kegiatan PBL II yang diharapkan mampu mendukung upaya pengendalian Tuberkulosis di Desa Mojorejo. Melalui kegiatan Praktik Belajar Lapangan I ini, mahasiswa Prodi Kesmas FKMIK UNIVET BANTARA tidak hanya memperoleh pengalaman belajar secara langsung di masyarakat, tetapi juga memperkuat kolaborasi dengan Puskesmas Bendosari, Pemerintah Desa Mojorejo, serta kader kesehatan dalam mendukung pengendalian Tuberkulosis. Sinergi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan mampu menghasilkan program intervensi yang berbasis data, tepat sasaran, serta berkelanjutan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, pungkas Titik.(Begug SW /pimred Cahyospirit)


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar