BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Kunjungan Dinas dan Bank Indonesia ke Gapoktan Ngudi Rukun Doho, Dorong Optimalisasi Sarana dan Peningkatan Nilai Tambah Beras

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngudi Rukun, Desa Doho, Kabupaten Wonogiri menerima kunjungan dari Dinas Ketahanan Pangan, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Solo, serta perwakilan Dinas tingkat provinsi

Wonogiri MR— Upaya memperkuat kelembagaan petani dan meningkatkan nilai tambah hasil panen terus dilakukan melalui sinergi berbagai pihak. Pada Jumat, 20 Februari 2026, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngudi Rukun, Desa Doho, Kabupaten Wonogiri menerima kunjungan dari Dinas Ketahanan Pangan, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Solo, serta perwakilan Dinas tingkat provinsi dalam rangka survei awal dan evaluasi pemanfaatan sarana pendukung distribusi pangan.

Ketua Gapoktan Ngudi Rukun, Wagiyanto, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian serta dukungan yang diberikan oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Gapoktan Ngudi Rukun berdiri pada tahun 2008, kemudian pada tahun 2009 bergabung dengan program Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM), sebuah inisiatif Kementerian Pertanian yang bertujuan memperkuat kelembagaan petani, meningkatkan nilai tambah komoditas gabah, beras, dan jagung, serta menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan.


“Melalui LDPM, Gapoktan mendapatkan dukungan untuk pembangunan sarana gudang dan modal pembelian hasil panen. Kami menerima realisasi bantuan pada tahun 2010, sebagai bagian dari lima Gapoktan di Wonogiri yang memperoleh dukungan secara bertahap antara tahun 2009 hingga 2014,” jelas Wagiyanto.

Program LDPM berperan penting dalam memperkuat posisi petani dalam rantai distribusi pangan, terutama dengan menyediakan cadangan pangan, meningkatkan nilai tambah komoditas, serta memutus rantai pasok yang selama ini merugikan petani. 

Dukungan tersebut dilanjutkan pada tahun 2016 melalui pembangunan Rice Milling Unit (RMU) atau penggilingan padi, yang memungkinkan Gapoktan mengolah gabah menjadi beras kemasan secara mandiri. Pembangunan gedung dilakukan oleh PT Jatayu, sementara mesin penggilingan disuplai oleh Agrindo. 

Pengadaan RMU bertujuan agar petani tidak lagi menjual gabah kering panen (GKP) dengan harga rendah ke tengkulak, melainkan menjual beras yang sudah diproses dengan nilai tambah lebih tinggi.

Dalam kunjungan tersebut, Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Ridwan Jauhari, S.TP., M.P., menegaskan pentingnya perhitungan yang matang terkait pemanfaatan investasi yang telah diberikan. Ia menekankan bahwa bantuan pemerintah harus benar-benar dimanfaatkan secara produktif dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi kelompok tani.

“Perlu dihitung dengan benar apakah investasi ini benar-benar bisa dimanfaatkan. Jangan sampai bantuan sudah diberikan, tetapi tidak digunakan dan akhirnya menjadi tidak terawat. Bantuan harus memberikan manfaat nyata dan mendorong kemandirian, sehingga Gapoktan mampu menghasilkan pendapatan dan bahkan melakukan perawatan secara mandiri,” tegas Ridwan.

Bank Indonesia dalam kesempatan tersebut juga menegaskan perannya dalam menjaga stabilitas inflasi, khususnya melalui penguatan kelembagaan distribusi pangan di tingkat petani. Bantuan yang diberikan diharapkan mampu mendorong produktivitas, sehingga kelompok tani tidak hanya bergantung pada stimulus, tetapi mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.

Diskusi dalam kunjungan tersebut juga menyoroti karakteristik petani di Wonogiri, termasuk di Desa Doho, yang umumnya menjual hasil panen segera setelah panen atau menyimpannya selama satu musim sebelum dijual. Kondisi ini menjadi salah satu faktor penting dalam perencanaan strategi distribusi dan pengelolaan cadangan pangan.

Ke depan, Gapoktan Ngudi Rukun diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas beras, dengan target peningkatan dari kategori beras medium yang selama ini dipasarkan melalui retail dan distributor, menuju kategori beras premium yang memiliki potensi pasar lebih luas, termasuk restoran dan segmen bisnis ke bisnis (B2B). Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah, memperluas akses pasar, serta meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan.

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya bersama antara pemerintah, lembaga keuangan, dan kelompok tani untuk memastikan setiap bantuan yang diberikan benar-benar memberikan manfaat nyata, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Kabupaten Wonogiri.(Fery yelyanto/ Pimred Cahyospirit)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar